Mastatho’tum

Cerita ini diambil dari berbagai sumber dan cukup menyebar di media sosial. Saya pun sangat terinspirasi pada kisah ini, disaat semangat lagi turun alangkah baiknya meluangkan waktu untuk membaca kisah ini kembali :

"Bebanmu Akan Berat, Jiwamu harus Kuat, Tetapi Aku Percaya, Langkahmu Akan JAYA! Kuatkan Pribadimu!" -Hamka

Adalah Abdullah Al Azzam, seorang syekh teladan, menjadi panutan, sangat dihormati lagi disegani, oleh para muridnya. Pada suatu saat Beliau ditanya oleh seorang muridnya,
“Ya syekh, apa yang dimaksud dengan Mastatho’tum”?

Kemudian Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semua muridnya untuk berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan semampu mereka. Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid akan berbeda.

Satu putaran masih belum terasa. Putaran kedua berkurang tenaga. Kini mulai berguguran perlahan di putaran ketiga. Hingga tersisa beberapa saja yang masih berusaha sekuat tenaga. Hingga akhirnya satu persatu merasa lelah dan menyerah. Mereka yang tidak kuat untuk melanjutkan langsung istirahat menepi ke pinggir lapangan, dengan rasa haus dan lelah.

Mereka merasa sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka. Setelah semua muridnya menyerah, Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan. Satu putaran masih berseri seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang keempat Sang Syekh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengat tidak beraturan. Tapi dia tetap berusaha. Beliau terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliaupun terhuyung tanpa  penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Dan akhirnya Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.

Setelah Beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya, “Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”, “Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum! Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita”. Jawab Sang Syekh dengan mantap.

Anakku semoga kita dijauhkan dari kemalasan, dari lemahnya azzam, dari kecilnya kontribusi kita, semoga kita bisa memprioritaskan alokasi tenaga secara khusus untuk perjuangan di jalan dakwah ini. Smg kita sampai pada mujahid- syahid di hadapan Allah SWT.

Selamat berjuang saudaraku, berdirilah di atas Manfaat dan teruslah berbuat yang terbaik.

Salam Berkah Berlimpah.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*