Kenapa Orang Kaya Makin Kaya dan yang Gajinya Pas-pasan tetap Stagnan ?

Kenapa Orang Kaya Makin Kaya dan yang Gajinya Pas-pasan tetap Stagnan.?

"Bebanmu Akan Berat, Jiwamu harus Kuat, Tetapi Aku Percaya, Langkahmu Akan JAYA! Kuatkan Pribadimu!" -Hamka

Sejumlah survei di berbagai negara mengkonfirmasi fakta yang muram ini : kesenjangan sosial antara orang kaya dengan yang penghasilannya pas-pasan kian melebar.

Yang penghasilannya pas-pasan memang tetap mengalami kenaikan income. Namun laju kenaikan income-nya jauh dibawah lapisan orang kaya. Di Amerika misalnya, laju kenaikan income orang kaya 20 kali lipat lebih tinggi dibanding laju kenaikan income orang yang gajinya pas-pasan.

Di tanah air, mungkin terjadi fenomena yang serupa. Laju kenaikan income orang kaya lebih dramatis dibanding yang penghasilannya pas-pasan.

Kenapa fenomena yang muram itu bisa terjadi?

Faktanya, rasio Gini di tanah air menunjukkan angka yang kian melebar. Indeks atau Rasio Gini adalah indeks yang lazim digunakan untuk menunjukkan tingkat kesenjangan antara pendapatan orang kaya dengan orang miskin.

Pertanyaannya : kenapa laju kenaikan pendapatan orang kaya jauh lebih cepat dibanding laju kenaikan pendapatan orang yang gajinya pas-pasan?

Tiga faktor berikut bisa memberikan penjelasan yang layak direnungkan. Tiga faktor yang juga menjelaskan misteri tentang The Science of Wealth.

Faktor # 1 : Kerusakan Sel Otak. Seperti yang pernah saya sebelumnya, sebuah studi memunculkan fakta yang kelam : orang yang penghasilannya pas-pasan dalam jangka panjang otaknya mengalami erosi. Otaknya menjadi tulalit dan mengalami degradasi. Kecakapan otaknya menjadi kian menurun.

Kenapa begitu? Karena setiap waktu pikiran mereka dibayangi stress dan kecemasan tentang kondisi finansial yang serba terbatas (gaji cepat habis, padahal cicilan banyak yang belum lunas, sementara harga terus naik gara-gara rupiah kolaps).

Kecemasan yang berkepanjangan tentang gaji yang serba terbatas, menimbulkan beban yang melukai katajaman otaknya untuk berpikir kreatif mengubah nasib. Alhasil nasib hidupnya menjadi stagnan.

Orang kaya yang penghasilannya 30 atau bahkan 50 juta per bulan, mungkin tidak mengalami kecemasan itu. Ia jarang dilanda kecemasan tentang biaya hidup yang kian selangit atau harga rumah yang makin tidak terjangkau. Sebab income-nya lebih dari memadai untuk membiayai hidupnya dan keluarga.

Karena otaknya tidak pernah dilanda kecemasan akibat kondisi keuangan yang terbatas, maka sel-sel otak orang kaya menjadi lebih cekatan dalam menjemput peluang.

Faktanya, studi yang dilakukan tim peneliti dari Princeton menemukan data : orang yang penghasilannya melimpah memang memiliki skor lebih tinggi saat dihadapkan pada beragam tes kognitif (dibanding orang dengan penghasilan pas-pasan).

Faktor # 2 : Efek Bola Salju Kekayaan. Ini adalah faktor yang amat krusial dalam menjelaskan kesuksesan seseorang.

Orang yang kaya dan sukses secara psikologis merasa telah menemukan “major wins” : sebuah pilar yang amat penting untuk memotivasi seseorang untuk meraih sukses yang lebih tinggi.

Studi psikologis menemukan fakta : rentetan major wins (yang bentuknya antara lain adalah kenaikan income secara signifikan atau penghasilan yang kian melimpah) adalah pemicu motivasi yang kuat untuk mendorong orang agar bekerja makin gigih.

Disitulah momentum bola salju kekayaan tercipta : orang yang penghasilannya sudah melimpah merasa mendapat major win yang berharga >> dan karena itu makin percaya diri dan makin optimis >> dan karena itu kemudian makin gigih berusaha >> dan karena makin gigih bekerja maka laju kekayaannya kian melesat.

Pengalaman nyata memang kerap menunjukkan hal seperti itu : orang yang sudah kaya dan sukses, justru makin antusias, optimis dan bersemangat menjalani hidup. Major win yang telah mereka raih menjadi pilar motivasi yang kokoh untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi.

Itulah yang disebut dengan “efek bola salju kekayaan” : dan inilah fenomena yang bisa menjelaskan kenapa orang kaya makin kaya, dan acap dengan laju kenaikan pendapatan yang makin cepat.

Sebaliknya : orang dengan penghasilan pas-pasan secara psikologis sulit memotivasi dirinya untuk menapak jalan hidup yang lebih mapan. Kenapa? Ya karena dia merasa belum bisa menemukan “major wins” yang bisa memotivasi dirinya.

Ia malah kadang makin pesimis menghadapi hidup, demi melihat kondisi keuangannya yang serba terbatas. Sikap pemimis yang kadang berubah menjadi nyinyir saat melihat kesuksesan orang lain yang sudah kaya.

Rasa galau, pesimis, dan ragu-ragu dalam melangkah terjadi karena dia memang belum pernah menemukan major wins yang menjadi bukti bahwa dirinya sanggup meraih kesuksesan. Ia belum punya jejak kesuksesan yang proven dan bisa dijadikan evidence untuk memotivasi dirinya.

Yang terjadi kemudian adalah “efek bola salju kemiskinan” : hidup dengan gaji pas-pasan >> lalu merasa pesimis dengan masa depan >> lalu tidak punya rasa percaya diri untuk take action demi mengubah nasib >> lalu nasib hidupnya menjadi stagnan dan makin terpuruk dalam kondisi keuangan yang serba terbatas (cicilan hutang masih banyak, tidak sanggup membeli rumah sendiri, dan apalagi memberangkatkan orang tuanya umroh).

Komponen major wins menjadi elemen kunci yang memotivasi orang kaya untuk makin kaya. Ketiadaan major wins menjadi elemen yang men-demotivasi orang dengan income pas-pasan sehingga terus hidup dalam stagnasi.

Faktor # 3 : Keajaiban Investasi. Orang dengan income hingga 50 juta per bulan atau lebih, hampir selalu punya dana memadai untuk disisihkan buat investasi : membeli reksadana, emas atau tanah dan properti.

Investasi itu kadang ditempatkan dalam “aset tetap yang produktif” : ruko yang bisa disewakan, apartemen yang bisa dikontrakkan, atau tanah yang harganya terus naik setiap tahun.

Kadang, return atau juga passive income dari hasil investasi aset aktif ini bisa melebihi gaji kebanyakan karyawan.

Disitulah prinsip kekayaan terjadi : biarkan uang (yang diinvestasikan) yang bekerja keras untuk Anda (lalu memberikan capital gain atau apresiasi kenaikan harga yang signifikan).

Dan bukan kita yang kerja keras mengejar uang — yang kadang jumlahnya juga tak banyak, karena pas tanggal 20 sudah habis buat bayar aneka cicilan, termasuk cicilan kredit Honda Vario yang belum lunas.

Hasil investasi yang mak nyus tadi sering di-investasikan kembali oleh pemiliknya; sehingga tercipta akumulasi kekayaan yang akseleratif. Itulah kenapa laju kenaikan total income lapisan orang kaya bisa terus melesat.

Sebaliknya, orang dengan penghasilan pas-pasan mungkin tidak lagi punya sisa uang untuk diinvestasikan. Boro-boro investasi beli tanah, emas atau reksadana; bahkan untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari saja, kadang tidak cukup.

DEMIKIANLAH, tiga faktor yang mungkin bisa menjelaskan kenapa laju kenaikan income orang kaya bisa makin cepat; sementara laju kenaikan income orang dengan gaji pas-pasan tetap stagnan.

Alhasil, yang kaya makin kaya, dan yang nasibnya stagnan tetap akan terpuruk dalam duka dan nestapa.

Lalu harus bagaimana?

Kita tidak bisa menyalahkan kesenjangan sosial yang kian tajam ini kepada pihak pemerintah, kapitalisme global, atau blah-blah lainnya.

Daripada buang-buang energi negatif untuk ngomel-ngomel tentang kesenjangan sosial, jauh lebih baik kita berusaha dengan gigih agar juga mendapat limpahan rezeki yang barokah (agar bisa menjadi kaya dan sanggup menyekolahkan ratusan anak yatim, atau juga membelikan rumah yang asri buat kedua orang tua).

Sebab memang Anda sendirilah yang menentukan nasib dan masa depan Anda. Bukan atasan, bos, pemilik perusahaan, pihak pemerintah, atau Nyi Roro Kidul.

YOU. You define you own destiny. You write your own storyline.

Akhir kata, teruslah berikhtiar agar bisa menjadi orang dengan kondisi keuangan yang melimpah dan barokah.

Sebab salah satu cara terbaik untuk ikut membantu memberantas kemiskinan adalah pertama-tama, dengan membuat dirimu tidak jatuh menjadi orang miskin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*